Senin, 17 Desember 2012

Ikhwan al Shafa



1. PENDAHULUAN
Setelah Wafatnya Rasul bermunculan berbagai masalah serta timbulnya kemajuan pola pikir  mulai dari aspek politik, sosial, budaya, dan lain-lain. Hal ini lah yang mungkin menjadi sebab munculnya beberapa ilmuan Islam. Beberapa ilmuan islam diantaranya adalah filosof muslim yang mana ilmuan tersebut tak dapat kita lupakan jasa-jasanya dalam dunia pendidikan dan akan selalu terkenang dalam benak kita. Dari beberapa filosof muslim ada yang berfilsafat personal, ada juga yang secara berkelompok. Diantaranya ialah al Kindi, al Farabi, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Ikhwan as Shafa. Dari beberapa yang penulis sebutkan adalah filosof muslim yang berfilsafat secara personal kecuali Ikhwan as Shafa. Ikhwan as Shafa berfilsafat secara berkelompok. Selanjutnya penulis akan membahas beberapa tentang Ikhwan as Shafa.
2. PEMBAHASAN
A. Pengertian, Sejarah lahir, Tujuan, karya-karya, dan Tokoh-tokoh Ikhwan as Shafa
Pengertian Dan Sejarah Lahir Ikhwan as Shafa
Ikhwan as Shafa secara bahasa berarti persaudaraan kemurnian. [1] Secara bahasa Ikhwan diambil dari akar kata al akh (saudara) membentuk kata jamak , dan dapat digunakan mashdar. Al Shafa sendiri berasal dari akar kata Shaafin (yang suci, jernih). Secara terminologis Ikhwan as Shafa digunakan untuk menunjukkan sekelompok pemikir filsafat dikalangan umat islam pada abad ke 10 M. [2] Ikhwan as Shafa adalah sebuah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Asas utama perkumpulan ini adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus ikhlas, kesetiakawanan yang suci, murni, serta saling menasehati antara sesama anggota dalam menuju ridha ilahi.[3] Ikhwan as Shafa berasal dari sekte Syiah Ismailiyah yang lahir ditengah-tengah komunitas Sunni sekitar abad ke-4 H / 10 M di Bashrah.[4] Namun ada juga sumber lain yang menyatakan bahwa Ikhwan Al Shafa bukan bagian dari syi’ah Isma’illiyah tapi dianggap sebagai bagian dari mereka dan mendapat tempat di hati para pembesar Syi’ah Ismailliyah.[5] Ikhwan as Shafa muncul pada masa pemerintahan al Mansur, khalifah kedua Bani Abbas. [6]
Kelompok ini juga menamakan diri mereka dengan khulan al wafa’, ahl al- adl, dan Abna al Hamd. Nama Ikhwan as Shafa sendiri diadopsi dari “merpati” dalam kisah Khalilah Wa Dumnah yang pernah diterjemahkan oleh Ibnu Muqaffa’. Kelompok ini baru muncul dalam percaturan pemikiran semasa Dinasti Buwaihi.[7] Dengan begitu kerahasiaan kelompok ini baru terungkap setelah berkuasanya Bani Buwaihi, yang berpaham Syiah di Baghdad pada tahun 983 M. Ada kemungkinan kerahasiaannya ini dipengaruhi oleh paham taqiyah (menyembunyikan keyakinan) ajaran Syiah karena basis kegiatannya berada di tengah masyarakat Sunni yang tidak sejalan dengan ideologinya.[8]
Paham muncul ini disebabkan basis kegiatannya berada ditengah-tengah masyarakat sunni yang nota bene adalah lawan ideologi dari Ikhwan al-Safa (Syiah), selain itu juga disebabkan oleh dukungan mereka terhadap faham mu’tazilah yang telah dihapuskan dari madzhab Negara oleh khalifah Abbasiyah al-Mutawakkil (sekte sunni). Maka kaum rasionalis dicopot dari jabatan pemerintahan kemudian diusir dari Baghdad.
Berikutnya penguasa melarang mengajarkan kesusateraan, ilmu, dan filsafat. Kondisi yang tidak kondusif ini berlanjut pada khalifah-khalifah sesudahnya. Berdasarkan permasalahan itulah kelompok ini selain bergerak di bidang keilmuan juga bertendensi politik.
Pada masa khilafah Abbasiyah dikuasai Dinasti Salajikah yang berpaham sunni, gerakan kelompok ini dinilai mengganggu stabilitas keamanan dan ajaran-ajarannya dipandang sesat. Maka pada tahun 1150 Khalifah Al-Muntazid menginstruksikan agar seluruh karya filsafat Ikhwán dibakar. Hal ini disebabkan karena perbedaan ideologi antara penguasa Dinasti Salajikah yang Sunni dengan kelompok Ikhwan al-Safa yang Syiah.[9]
 Sejak kekhalifahan Abbasiyah dipegang oleh al-Mutawakkil (232-247 H), cara pikir Mu’tazily (cara pikir rasional dalam mencari pengetahuan dan kebenaran) dan buku-buku yang berbau Mu’tazilah serta ilmu-ilmu sekuler, prafon, mulai disingkirkan. Sementara itu keyakinan tradisional mulai mendominasi masyarakat Islam. Para filosof dituduh sebagai penganut bid’ah. Agama jadi beku karena tokoh-tokohnya yang fanatisme. Syariat Islam dikacaukan oleh noda ta’wil yang telah jauh dari syari’at Islam itu sendiri.
Pada masa ini muncullah sekelompok orang yang ingin menghidupkan kembali obor ilmu pengetahuan dengan mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan, baik yang beredar di negeri Islam maupun ilmu-ilmu yang didatangkan dari India, Yunani, Persia dan Romawi, sebagai refleksi dari fanatisme tersebut. Karena hilangnya kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat kala itu, maka kelompok yang akhirnya dikenal dengan nama Ikhwan al-Shafa ini menjadi gerakan bawah tanah. Mereka berkumpul, bertukar pikiran (mudzakarah) secara rahasia. Bahkan nama, juga dirahasiakan, untuk menghindarkan diri dari gangguan pihak penguasa.[10]
Ikhwan as Shafa didirikan oleh kelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Mereka sangat mengutamakan pendidikan dan pengejaran yang berkenaan dengan pembentuk pribadi, jiwa, dan akidah.[11]
Menurut Hana al Fakhury dan Khalil al Jarr bahwa nama Ikhwan as Shafa diekspresikan dari kisah merpati dalam cerita kalilat wa Dumnat yang diterjemahkan oleh Ibnu Muqaffa’. Melihat pada kesetiaan dan kejujuran serta kesucian persahabatan dalam organisasi ini seperti terdapat dalam kisah diatas, namun penjelasan dari anggota yang bersangkutan tentang hal ini tidak ditemukan.[12]
Saat pamor kekhalfahan Bani Abbas pelan-pelan memudar pada abad ke 10, gerakan bawah tanah isma’iliyah (syiah ekstrem), dengan dukungan pemerintahan Dinasti Fathimiyah di Mesir, bergiat menyebarkan kredo politik revolusioner yang bersumber dari filsafat Neophytagoreanisme dan Neoplatonisme. Keyakinan kaum Ismailiyah akan otoritas guru atau imam yang maksum dalam menyingkap kebenaran tersembunyi dari agama begitu klop dengan filsafat Yunani, terutama dengan kecenderunagan esoteris Neophytagorean dan obsesi bersama mereka pada matematika sebagai jalan pasti menuju kebenaran.
Ibnu Sina dala autobiografinya, menuturkan bahwa hal pertama yang mengeksposnya pada filsafat ialah perbincangan soal jiwa dan nalar manusia dala ajaran-ajaran Isma’iliyah, yang dianut oleh ayah dan saudaranya. Semua itu, tulis Ibnu Sina, “untuk memenuhi ajakan (Kaum Fathimiyah) dari Mesir.” Ayahanda, tulisnya lagi, “telah demikian terbiasa membaca dan merenungi buku Rasa’il Ikhwa al Shafa. Aku sendiri terkadang juga sama.
Rasail Ikhwan al Shafa berisi aneka pemikiran filsafat, matematika, dan politik yang disampaikan dalamkemasan populer. Pamrih Ikhwan al Shafa tercantum dalam risalah ke-51, yaitu menemukan kebenaran dan mengesampingkan kehidupan duniawi.
Semboyan para penulis Ikhwan al Shafa (dalam ungkapannya bernas) yaitu “menolak upaya-upaya mengabaikan pengetahuan, mengesampingkan karya tulis, atau melebih-lebihkan suatu keyakinan apapun, sepanjang aspek indrawi dan rasional, awal dan akhir, lahir dan batin, serta luar dan dala keyakinan tersebut.. berpangkal pada prinsip dan sebab yang Tunggal, serta alam dan jiwa yang manunggal.[13]
Tujuan Ikhwan as Shafa
Secara umum, kemunculan Ikhwan as Shafa dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap pelaksanaan ajaran islam  yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran dari luar islam, serat untuk membangkitkan kembali rasa cinta pada ilmu pengetahuan dikalangan umat islam. Kelompok ini bekerja dan bergerak secara rahasia disebabkan kekhawatiran akan ditindak penguasa waktu itu yang cenderung menindas gerakan-gerakan pemikiran yang timbul. Hal ini yang menyebabkan anggota Ikhwan as Shafa  beranggotakan terbatas.[14] Lahirnya Ikhwan al-shafa’ adalah ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya pada jalan kebahagiaan yang diridhai Allah. Menurut mereka, syariat telah dinodai bermacam-macam kejahiliyahan dan dilumuri keanekaragaman kesesatan. Satu-satunya jalan untuk membersihkannya adalah filsafat.[15]
Dalam sumber lain disebutkan bahwa Ikhwan al-Shafa berusaha memadukan atau rekonsiliasi (talfiq) agama dengan filsafat dan juga antara agama-agama yang ada. Usaha ini terlihat dari ungkapan mereka bahwa syari’at telah dikotori bermacam-macam kejahilan dan dilumuri berbagai kesesatan. Satu-satunya jalan membersihkannya ialah filsafat. Kemudian mereka mengklaim bahwa apabila dipertemukan antara filsafat yunani dan syari’at maka akan menghasilkan kesempurnaan. Ikhwan al-Shafa seakan menempatkan filsafat di atas agama. Mereka mengharuskan filsafat menjadi landasan agama yang dipadukan dengan ilmu. Kesimpulan ini didukung dengan pendapat mereka dalam bidang agama. Menurut mereka ungkapan al-Qur’an yang berkonotasi inderawi dimaksudkan agar cocok dengan tingkatan nalar orang Arab Badui yang berkebudayaan bersahaja. Sedangkan bagi yang memiliki pengetahuan yang lebih tinggi mereka haruskan memakai takwil untuk melepaskan diri dari pengertian lafzi dan inderawi. Untuk itulah Ikhwan berusaha dengan gigih memadukan filsafat dengan agama dengan menurunkan metafisika dan ilmu pengetahuan dari puncak spekulatif murni yang tidak dapat dijangkau secara aktif-praktis.[16]
Tokoh-Tokoh Ikhwan as Shafa
Tokoh terkemuka dalam Ikhwan as Shafa  ini diantaranya adalah Ahmad ibnu Abd Allah, Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr Al Busti yang terkenal dengan sebutan Al Muqaddasi, Zaid ibnu Rifa’ah dan Abu Al Hasan Ali ibnu Harun Al Zanjany.[17]
Penanggungjawab karya-karya Ikhwan al Shafa ialah Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr Al Busti yang terkenal dengan sebutan Al Muqaddasi karena dialah yang memilki kelebihan dalam strategi penulisan.[18]
Ikhwan al Shafa
Kelompok Ikhwan al Shafa digolongkan dalam 4 tingkatan, yaitu:
  1. Tingkatan pertama. Kelompok anggota yang terdiri dari pemuda cerdas berusia 15-30 tahun. Selain cerdas juga cekatan dan memiliki semangat berpengetahuan yang tinggi. Tiap anggota diwajibkan untuk patuh dan tunduk pada guru-guru.
  2. Tingkatan kedua. Kelompok pemuda usia 30-40 tahun. Kelompok ini dinamakan Ikhwan al akhyar. Tiap anggota dalam kelompok ini diharapkan sudah mampu memelihara arti persaudaraan, bersikap pemurah, penuh kasih sayang, dan dinilai telah siap untuk mengorbankan apapun demi persaudaraan.
  3. Tingkatan ketiga. Kelompok pemikir usia 40-50 tahun. Kelompok ini disebut Ikhwan al Fudhala al Kiram. Kelompok ini dianggap sebagai anggota kelompok dewasa. Keseluruhan anggota dalam tingkatan ini sudah sampai pada pengetahuan namus ilahi yang merupakan tingkat pengetahuan para ilahi.
  4. Tingkatan keempat. Kelompok terakhir. Usia diatas 50 tahun. Tiap anggota dalam tingkatan ini sudah mampu memahami hakikat sesuatu dan bisa disejajarkan tingkat pengetahuannya dengan al Muqarrabun, sehingga mereka berada di alam realitas dan melampaui syari’at dan wahyu.[19]
Karya-karya Ikhwan al Shafa
Dalam produktivitas penyusunan dan penulisan karyanya, Ikhwan al Shafa mengumpulkan karya-karya nya dalam suatu ensiklopedi, yang mereka sebut denga Rasail.[20] Ensiklopedianya terdiri atas 51 risalah (epistle) yang dilengkapi dengan ikhtisar dibagian akhirnya. Ensilkopedia ini secara garis besar, dibagi menjadi 4 kelompok:
  1. kelompok pertama, berisi 14 risalah matematis tentang angka. Risalah dalam kelompok ini memuat bagian (1) pendahuluan (2) geometri (3) astronomi (4) musik (5) geografi (6) proposisi-proposisi harmonik (7 dan 8) seni-seni teoretis dan praktis (9) etika.
  2. Kelompok kedua. Terdiridari 17 risalah, membahas persoalan fisik-materiil. Karyanya berkaitan dengan fisika aristoteles ditambah ihwal psikologi, epistimologi, dan linguistik.
  3. Kelompok ketiga. Terdiri 10 risalah psikologis-rasional yang membahas prinsip intelektual, intelek itu sendiri, intelligibles, hakikat cinta erotik, hari kebangkitan, dsb.
  4. Kelonpok keempat. Terdiri atas 14 risalah, yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al Shafa, sifat hukum Illahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, juin dan malaikat, rezim politik, hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.[21]
B. Teori tentang penciptaan dan filsafat manusia
Teori tentang Penciptaan
Dalam penciptaan, Ikhwan al Shafa menerima ajaran Neo Platonisme yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan semesta melalui proses Emanasi (faidh). Emanasi diselenggarakan Tuhan dengan menggunakan kata “kun fayakun” dalam satu bentuk kejadian. Para pemikir Ikhwan al Shafa meyakini bahwa Tuhan adalah pencipta yang manunggal bilangannya. Dengan kehendakNya terciptalah akal pertama yang merupakan akal aktif  (al ‘aql al fa’al). Karena Tuhan adalah qadim dan baqa’. Maka akal aktif juga terkena imbas qadim dan baqa’. Akal yang pertama ini sudah dilengkapi dengan ragam potensialitas yang kemudian nanti di aktualisasikan dalam tahap-tahap emanasi lanjutan. Secara tidak langsung Tuhan akan terus berhubungan dengan materi sampai kemurnian Esa Nya yang terpelihara sebaik-baik nya melalui rangkaian Emanasi menurut Ikhwan al Shafa:
1.      Penciptaan sekaligus, terjadi dalam dimensi keruhanian dan terdiri dari penciptaan akal aktif, jiwa universal, dan materi pertama.
2.      Penciptaan secara gradual atau bertahap, terjadi dalam dimensi fisik material dan terdiri dari penciptaan dari materi absolut, alam planet-planet, unsur-unsur alam terendah, materi gabungan (yang terdiri dari mineral, tumbuhan, dan hewan).
Prestasi gemilang pemikiran Emanasi Ikhwan al Shafa terpusat pada pembicaraan tingkat Emanasi ke delapan, yaitu materi gabungan yang terdiri dari mineral, tumbuhan, dan hewan.
 Ikhwan al Shafa menyimpulkan bahwa alam mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia merupakan satu rangkaian yang tersambung. Dalam hal ini disebutkan bahwa objek-objek material tersusun dari empat unsur yang dipandu dan diperantarai oleh empat kualitas utama. Jika seandainya empat unsur disederhanakan lagi, maka yang tersisa adalah dua substansi azali; asap (api dan udara) dan lumpur (air dan tanah). Gambaran yang ditunjukkan Ikhwan al Shafa adalah sebagai berikut; disaat matahari dan planet menyebabkan air berubah menjadi uap (kabut) yang kemudian berubah warna menjadi awan. Awan kemudian berubah menjadi hujan, dan hujan turun menimpa tanah akan menghasilkan lumpur. Lumpur membentuk substrantum mineral, tumbuhan, dan hewan. Penciptaan material terendah adalah penciptaan mineral dan yang tertinggi adalah penciptaan manusia pasca tumbuhan dan hewan.[22]
Berikut rangkaian proses emanasi menurut Ikhwan al Shafa:
  1. Akal pertama atau akal aktif (al aql al faal)
  2. Jiwa Universal (al nafs al kulliyat)
  3. Materi Pertama (al hayulan al ula)
  4. Potensi jiwa Universal (al thabi’ah al fa’ilah)
  5. Materi absolut atau materi kedua (al jism al muthlaq)
  6. Alam planet-planet (alam al falaq)
  7. Unsur-unsur alam terendah (anasir al alam al sufla) yang meliputi; tanah, air, udara, api.
  8. Materi gabungan yang terdiri dari mineral, tunbuhan, dan hewan.[23]
Dengan kemauan sendiri Allah menciptakan Akal Pertama atau Akal Aktif secara emanasi (al-faidh). Kemudian Allah menciptakan jiwa dengan perantara akal. Selanjutnya, Allah menciptakan materi pertama (al-Hayyula al-ula). Dengan demikian, jika Allah Qodim, lengkap, dan sempurna, maka Akal Pertama juga demikian halnya. Pada Akal Pertama lengkap dengan segala potensi yang akan muncul pada wujud berikutnya. Sementara jiwa terciptanya secara emanasi dengan perantara akal, maka jiwa qodim dan lengkap, tetapi tidak sempurna. Demikian juga dengan materi pertama, karena terciptanya secara emanasi dengan perantara jiwa, maka materi pertama adalah qodim, tidak lengkap, dan tidak sempurna.
Jadi Allah tidak berhubungan dengan alam materi secara langsung, sehingga kemurnian tauhid dapat terpelihara dengan sebaik-baiknya. Secara kronologis rangkaian proses emanasi itu bermula dari Allah Maha Pencipta dan dari-Nya timbullah Akal Aktif atau Akal Pertama (al-Aql al-Fa’al), kemudian dengan perantara akal Allah menciptakan Jiwa Universal (al-Nafs al-Kulliyyat), selanjutnya Allah menciptakan materi pertama (al-Hayyula al-Ula), dan dilanjutkan dengan adanya Alam Aktif (al-Thabiat al-Fa’ilat), setelah itu terwujudlah Materi Absolut atau Materi Kedua (al-Jism al-Muthlaq), yang menghantarkan pada terwujudnya Alam Planet-planet (Alam al-Aflak), dan setelah itu muncullah Unsur-unsur alam terendah (Anashir al-Alam al-Sufla), yaitu air, udara, tanah, dan api. Dan yang terakhir adalah materi gabungan, yang terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Sementara itu, manusia termasuk dalam kelompok hewan yang mampu berbicara dan berpikir.
Selaras dengan prinsip matematika Ikhwan al-Shafa, kedelapan mahiyah di atas bersama zat Allah yang muthlak, maka sempurnalah jumlah bilangan menjadi sembilan. Angka sembilan ini juga membentuk substansi organik pada tubuh manusia, yakni tulang, sumsum, daging, urat, darah, saraf, kulit, rambut, dan kuku.[24]
Filsafat Manusia
Menurut Ikhwan as Shafa, hakikat manusia terletak pada jiwanya. Sementara jasad merupakan penjara bagi jiwa. Oleh karena itu, ruang lingkup jasad hendaknya diperkecil, sedangkan ruang lingkup jiwa diperbesar. Manusia hendaknya hidup zuhud agar jiwanya lebih leluasa atas tubuhnya. Kehidupan yang demikian akan dapat mensucikan jiwanya dalam mengharap cinta Allah.
Ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al nafs al- kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong, setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini daya pikir (al quwwah al mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan dalam daya simpan (al quwwah al hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al quwwah al nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu kealaman dan filsafat.[25]
3. PENUTUP
Kesimpulan
  • Ikhwan as Shafa adalah sebuah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan.
  • Ikhwan as Shafa berasal dari sekte Syiah Ismailiyah yang lahir ditengah-tengah komunitas Sunni sekitar abad ke-4 H / 10 M di Bashrah. Ikhwan as Shafa muncul pada masa pemerintahan al Mansur, khalifah kedua Bani Abbas.
  • Kerahasiaan kelompok ini yang juga menamakan diri mereka  khulan al wafa’, ahl al- adl, dan Abna al Hamd, baru terungkap setelah berkuasanya Bani Buwaihi, yang berpaham Syiah di Baghdad pada tahun 983 M.
  • Ada kemungkinan kerahasiaannya ini dipengaruhi oleh paham taqiyah (menyembunyikan keyakinan) ajaran Syiah karena basis kegiatannya berada di tengah masyarakat Sunni yang tidak sejalan dengan ideologinya.
  • Penguasa melarang mengajarkan kesusateraan, ilmu, dan filsafat. Gerakan kelompok syiah dinilai mengganggu stabilitas keamanan dan ajaran-ajarannya dipandang sesat.
  • Tujuan didirikannya Ikhwan as Shafa ialah ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya pada jalan kebahagiaan yang diridhai Allah serta memadukan atau rekonsiliasi (talfiq) agama dengan filsafat dan juga antara agama-agama yang ada.
  • Tokoh terkenal dalam Ikhwan as Shafa diantaranya Ahmad ibnu Abd Allah, Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr Al Busti yang terkenal dengan sebutan Al Muqaddasi, Zaid ibnu Rifa’ah dan Abu Al Hasan Ali ibnu Harun Al Zanjany.
  • Teori Penciptaan memang tak jauh dari pengaruh Pytagoras dan Platinus. Menurut mereka, Allah adalah pencipta dan mutlak Esa.
  • Pembahasan dimulai dari angka “satu”. Menurut mereka satu yang sejati sama dengan sesuatu yang tidak terbagi dan sangat umum. Kejamakan baru mulai muncul apabila satu yang sejati tadi ditambahkan dengan satu yang lain. Maka  angka satu dapat dipandang sebagai dasar semua angka, yang sendirinya bukanlah angka.
  • Hakikat manusia terletak pada jiwanya. Sementara jasad merupakan penjara bagi jiwa. Oleh karena itu, ruang lingkup jasad hendaknya diperkecil, sedangkan ruang lingkup jiwa diperbesar. Manusia hendaknya hidup zuhud agar jiwanya lebih leluasa atas tubuhnya.

DAFTAR PUSTAKA
·         Al Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005
·         Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, Bandung: Insan Mandiri, 2009
·         Majid Fakhry, One World publications, Oxford, (England:1997), cet. lll
·         Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet l, 1997
·         Sirajuddin, Filsafat Islam, Jakarta: Rajawali Pers, ed. 1-3, 2009
·         Akifahadi, Labib Syauqi, Ikhwan al Shafa, di akses pada sabtu, 22 September  2012, dari http://labibsyauqi.blogspot.com/2009/06/ikhwan-al-shafa.html
·         Wikipedia, Ikhwan as Shafa, diakses pada 22 September 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwan_As-Shafa
·         Yulianto, Joko Adi, Ikhwan al Shafa, diakses pada 23 September 2012, dari http://pandidikan.blogspot.com/2011/09/ikhwan-al-shafa.htmlbhj nv bknv mn
·         Dlapan, dsdlapan, diakses pada 9 oktober 2012, dari http://dlapan-forum.blogspot.com/2011/05/makalah-ikhwan-al-shafa.html


[1] Wikipedia, Ikhwan as Shafa, diakses pada Sabtu, 22 september 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwan_As-Shafa
[2] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, (Bandung: Insan Mandiri), 2009, h. 99
[3] Al Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005, h. 96
[4] Sirajuddin, Filsafat Islam, (Jakarta; Rajawali Pers), ed. 1-3, 2009, h. 139
[5] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, (Bandung: Insan Mandiri), 2009, h. 99
[6] Al Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press), 2005, h. 96
[7] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 100
[8] Sirajuddin, Filsafat Islam, h. 139
[9] Masoviq, Husnurrofiq (The Blog Is Ours), diakses pada 9 oktober 2012, dari http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=sejarah%20ikhwan%20al%20shafa&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CDAQFjAD&url=http%3A%2F%2Fmasoviq.blogspot.com%2F2012%2F05%2Fikhwan-alsafa.html&ei=bP1zUJqDN4frrQeK-YHoBw&usg=AFQjCNGJRExVOKbyqTXdRRYl_ynq-i-eIg
[10] Dlapan, dsdlapan, diakses pada 9 oktober 2012, dari http://dlapan-forum.blogspot.com/2011/05/makalah-ikhwan-al-shafa.html
[11] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan 1, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu), cet l, 1997,  h. 181
[12] Sirajuddin, Filsafat Islam, h. 140
[13] Majid Fakhry, One World publications, Oxford, (England:1997), cet. lll, h. 63-64
[14] Al Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press), 2005, h. 96
[15] Joko adi yulianto, Ikhwan al Shafa, diakses pada 23 september  2012, dari http://pandidikan.blogspot.com/2011/09/ikhwan-al-shafa.html
[16] Labib Syauqi Akifahadi, Ikhwan al Shafa, di akses pada sabtu, 22 september 2012, dari http://labibsyauqi.blogspot.com/2009/06/ikhwan-al-shafa.html
[17] Sirajuddin, Filsafat Islam, Jakarta; Rajawali Pers, ed. 1-3, 2009, h. 139-140
[18] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 100
[19] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 101
[20] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 102
[21] Majid Fakhry, One World publications, h. 64
[22] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 109-111
[23] Hasan Basri, Zaenal Mufti, Filsafat Islam, h. 110
[24] Labib Syauqi Akifahadi, Ikhwan al Shafa, di akses pada sabtu, 22 september 2012, dari http://labibsyauqi.blogspot.com/2009/06/ikhwan-al-shafa.html
[25] Al Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005, h. 98-99

0 komentar:

Poskan Komentar