Rabu, 01 Januari 2014

Pandangan al Qur'an tentang Isa almasih sebagai anak Tuhan



PENDAHULUAN
Pandangan Islam tentang Yesus berbeda dengan ajaran Kristen. Perbedaan utama terletak pada persoalan ketuhanan Yesus, yang dalam manuskrip al-Qur'an dan bahasa Arab disebut Isa al-Masih. Pemeluk Islam mempercayai Isa Al Masih adalah seorang nabi dan juga seorang rasul yang diutus khusus untuk bangsa Israel. (makna rasul di dalam Islam berbeda dengan maknanya di dalam Kristen, lihat artikel tentang nabi). Dalam ajaran Islam, ia termasuk salah satu nabi yang termasuk rasul Ulul Azmi, yaitu rasul yang sabar dan tabah dalam mendakwahkan ajaran Allah.[1] Nama Yesus sendiri (tanpa kata ganti orang) disebutkan sebanyak dua puluh delapan kali di dalam al-Qur'an.Yesus di dalam Kekristenan juga dikenal dengan sebutan Kristus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia. Sedangkan Agama Yahudi menolak anggapan bahwa Yesus adalah seorang Mesias yang telah dinubuatkan dalam kitab suci mereka.[2]
Dapat dilihat dari hal tersebut bahwa disini banyak dari berbagai kalangan yang membicarakan tentang Isa al masih sendiri terdapat berbagai perbedaan. Dari satu kalangan berbeda dengan kalangan yang lainnya. Ada yang mempercayai bahwa Isa itu merupakan Anak Allah yang harus disembah, ada yang beranggapan bahwa Isa adalah seorang Nabi, ada pula yang menganggap bahwa Isa adalah seorang Mesias. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena perbedaan keyakinan dan atau perbedaan landasan yang mereka jadikan rujukan dalam membahas hal ini.
Maka jelas, bahwa terjadi perdebatan antar kalangan tentang hal ini. Maka mengenai Isa penulis akan sedikit membahas mengenai Isa Al masih Sebagai Anak Allah.
PEMBAHASAN
      A.    Isa almasih Sebagai Anak Tuhan Dalam Pandangan al Qur’an
Al Qur’an mengecam ungkapan Yesus sebagai Anak Allah. Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa Allah itu satu dan Esa adanya: “Ia tidak pernah beranak dan tidak pernah diperanakkan”.[3] Dalam surat an Nisa ayat 171 disebutkan tentang hal ini, yang artinya: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.[4]
Dalam al Qur’an sendiri dikatakan bahwa Yesus sendiri menolak sebutan bahwa Ia adalah Anak Allah. Hal ini merupakan dosa terbesar, yaitu memuja sesuatu selain Allah yang Esa. Dalam al Qur’an sendiri dikatakan bahwa Kristus sendiri menolak anggapan bahwa Ia adalah Anak Tuhan.[5] Hal ini seperti dikatakan dalam surat Maryam ayat 30, yang artinya yaitu: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi”.[6]
Maka, sudah barang tentu bahwa orang-orang yang hidup sesudah Kristus lah yang membuat nya, yang mana Anak Allah itu dibuat tanpa ada dasarnya dalam ajaran Kristus sendiri.
Menurut al Qur’an, al Masih ialah nabi yang benar, tidak mengatakan sesuatu yang tidak diizinkan. Ia ialah sebagai manusia yang murni, yang diciptakan dalam rahim Maryam oleh sabda Allah. Dengan demikian, Ia memang benar-benar makhluk, yang tidak boleh dibedakan atau ditinggikan atas makhluk yang lain. Abd allah adalah nama yang tepat untuk diberikan pada manusia dan demikian juga kepada Kristus: sebagai Hamba Allah Ia memenuhi tujuan yang ditentukan oleh Allah dalam penciptaan manusia, yaitu untuk melayani dia dan bekerja sebagai pengelola rumah tangga ciptaan.[7] Hal ini sama seperti yang dinyatakan dalam surat az Zukhruf ayat 59, yang artinya: “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.”[8]
Dalam hal ini, terdapat persamaan antar keduanya (Islam dan Kristen) mengenai pandangan tentang Isa almasih sebagai hamba. Dalam Kristen pun Isa almasih dipandang pula sebagai Hamba Allah.[9]
Disini, dikatakan pula bahwa Kristus tidak pernah, tidak dapat dan tidak akan mendirikan kerajaan Allah yang duniawi. Orang Islam sering menunjuk pada kenyataan itu dan oleh karena nya menambahkan bahwa pesan Kristus masih belum sempurna, kemudian diperlukan nabi yang dikemudian hari menyempurnakannya.[10]
     B.     Isa almasih Sebagai Anak Tuhan Dalam Pandangan Kristen.
Tidak hanya dalam al Qur’an, dalam Alkitab pun juga mempunyai pandangan tersendiri tentang Isa atau Yesus itu sendiri. Terdapat perbedaan pandangan mengenai Isa dalam berbagai aspek. Namun, akan dijelaskan pula bahwa ada pula persamaan pandangan antar keduanya. Pandangan yang berbeda mengenai Isa seakan menjadi perdebatan antar keduanya. Perdebatan yang terdapat antar keduanya ini terdapat pada Yesus Kristus dan Ibu Nya, Maria dipuja sebagai dewa disamping Allah (Bapa). Pada zaman dahulu ada kepercayaan yang serupa, misalnya orang Mesir pada zaman purba percaya kepada Horus, anak yang suci dari Osiris dan Isis yang menjadi raja (Fir’aun). Dan pemahaman mereka tentang Yesus dan Maria dipengauhi dari situ. Hal itulah yang menjadi perbedaan pandangan dalam Islam dan Kristen.
Namun bagi orang yang mempunyai pengetahuan biarpun sedikit tentang agama Mesir kuno dan membandingkannya dengan pengajaran Kristen tentang keberadaan Kristus sebagai anak Allah akan segera melihat bahwa tidak ada persamaan sama sekali antara kedua pemahaman tersebut. Maka pembicaraan ini akan terus menjadi perdebatan dikalangan orang Islam dan Kristen. Perdebatan yang seperti ini merupakan perdebatan yang salah. Akan tetapi, al Qur’an berbicara tentang Nasara, bukan kaum Kristen. Selain itu yaitu bahwa keberadaan Kristus sebagai Anak Allah itu merupakan suatu misteri yang tidak dapat dipecahkan dengan berdebat ataupun pertimbangan filosofis. Ia merupakan masalah iman, dan hanya karunia Allah lah yang dapat membuka pikiran seseorang untuk memahami arti dan kebenaran Nya. Maka berkali-kali ditekankan bahwa iman adalah iman, dan ilmu adalah ilmu. Ilmu hanya dapat mencoba menguraikan apa yang diimani, namun mustahil ia merasakan intisarinya.
Dalam kitab Perjanjian Baru pun disebutkan bahwa, Kristus sendiri tidak begitu suka dengan penggunaan istilah “Anak Allah”. Dalam injil Mat 16:18 dyb disebutkan bahwa petrus pernah menyebut Isa dengan sebutan Anak Allah. Namun Yesus mendiamkan pernyataan tersebut serta menyuruh murid Nya untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa Ia adalah Mesias (ayat 20). Tidak disebut-sebut istilah “Anak Allah”.[11]
Di hadapan Mahkamah Agama, sebelum para tua-tua Yahudi membawa Yesus untuk dihukum mati, mereka bertanya, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (lih. juga, Mat 26:63, “…katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak?”). Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.” (Luk 22:70-71).
St. Thomas Aquinas dalam bukunya Catena Aurea menjelaskan ayat ini dalam Injil Matius, dengan mengutip pengajaran St. Ambrosius, “Tuhan Yesus lebih berkehendak untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Raja [Anak Allah], daripada mengatakan bahwa diri-Nya sendiri adalah Raja [Anak Allah], sehingga mereka [para tua-tua Yahudi] tidak mempunyai alasan untuk menghukum-Nya, ketika mereka mengakui kebenaran yang atasnya mereka menuntut Dia. Maka Yesus berkata, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah.”[12]
Hal pertama yang menjadi perhatian Yesus adalah pemberitaan tentang pertobatan, karena kerajaan Allah sudah dekat. Kedatangan Yesus membawakan tanda-tanda kerajaan ini. Bagi mereka ini, kerajaan Allah bukan bagian dari mite masa depan, melainkan bagian dari kehidupan mereka, serta tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang spiritual melainkan yang menyangkut kehidupan jasmani mereka pula. Yesus mengatakan bahwa Ia tidak akan mendirikan kerajaan duniawi.
Bagi mereka (yang menyaksikan Yesus), misteri kepribadian Nya terletak pada hubungan Nya dengan Allah. Hal ini bukanlah suatu hubungan keagungan dan kemewahan, kuasa atau kemuliaan, melainkan ketaatan dan kerendahan hati. Ia menolak, atau paling tidak mengesampingkan sebutan “Anak Allah”, namun Ia lebih menyukai “Mesias” yang disebutkan oleh Petrus.
Mesias disini dipahami sebagai seorang yang seperti gembala yang membimbing dan menjaga kawanan dombanya sehingga berlaku sebagai seorang hamba bagi mereka yang dipercayakan kepadanya. Pemahaman tentang Yesus sebagai Mesias diperoleh dari cara Dia berhubungan dengan orang-orang lain, cara Nya melayani mereka dan bagiamana Ia membawa penghiburan bagi mereka yang terlupakan. Orang merasa bahwa perbuatan rendah hati ini tentu mendapatkan kekuatan Nya dari Allah. Yesus menyatakan diri Nya Mesias itu dengan cara menghambakan diri, dan dengan cara menggunakan kekuatan Nya bukan untuk membunuh musuh Nya, namun untuk melayani umat manusia dengan apa yang mereka perlukan.
Yesus menjadi manusia, sama seperti manusia yang lain. Bahkan Ia menempati kedudukan terbawah dalam hierarki kemasyarakatan. Dan dengan ini, Ia menjadi contoh bagi semua orang yang ingin mengikuti Dia.
Setelah memenuhi tujuan hidup Nya sebagai manusia, Allah membangkitkan Nya kembali dan memberi Nya nama yang tertinggi. Allah mengakui sendiri bahwa Yesus Kristus adalah Anak Nya, bahwa Ia adalah Tuhan.
Dalam hal ini, pendapat al Qur’an dapat juga diterima orang Kristen kalau dalam berbagai kesempatan ia menekan kan bahwa bukan Yesus sendiri yang mengajarkan kepada murid Nya untuk memanggil Nya Anak Allah. Adalah Allah sendiri yang mengakui Nya sebagai Anak Nya, setelah Yesus menyelesaikan tugas Nya sebagai manusia. Yesus Kristus tidak menjadi Anak Allah melalui kebangkitan Nya, namun Ia adalah Anak Allah dalam keberadaan Nya sebagai hamba.
Dalam Perjanjian Baru menjelaskan bahwa Kristus memerintah dengan cara yang berbeda, dengan cara penguasa duniawi, yakni sebagai hamba. Ia mengatasi semua cobaan untuk mengubah keadaannya. Misalnya, ketika  Ia ditangkap, ketika beberapa murid Nya ingin menggunakan kekerasan dan satu diantaranya telah mengkhianati Dia agar Ia dipaksa memperlihatkan kekuasaan Nya yang dahsyat, namun Ia tetap menolak percobaan itu.
Dalam al Qur’an sendiri pun terdapat pesan yang mana dikemukakan dalam kurun waktu 600 tahun setelah Kristus berada di dunia, dan dalam waktu yang sama gereja sudah berkembang. Apakah al Qur’an perlu mengingatkan orang-orang Kristen bahwa Anak Allah benar-benar Anak Allah dalam arti Hamba Allah, atau abd Allah? Disini, dikatakan bahwa Kristus tidak pernah, tidak dapat dan tidak akan mendirikan kerajaan Allah yang duniawi. Orang Islam sering menunjuk pada kenyataan itu dan oleh karena nya menambahkan bahwa pesan Kristus masih belum sempurna, kemudian diperlukan nabi yang dikemudian hari menyempurnakannya.[13]
Anak Allah merupakan pengakuan, dan pengakuan ini lahir dari keyakinan bahwa Allah telah membangkitkan Nya dari kematian. Dan Allah sendiri mengakui Nya sebagai Anak Nya. Dan bukan Yesus yang mengatakannya. Namun, gereja memahami Kristus sebagai Anak Tuhan yang memerintah dan merupakan raja yang harus diberi bakti. Pemahaman Kristus tidak lagi dipahami sebagai pelayanan, melainkan sebagai pemerintahan juga dengan memakai jubah raja duniawi, dan menguasai politik. Mereka tidak lagi meniru Kristus sebagaimana yang diperintahkan Paulus, namun mereka bertingkah laku seperti raja-raja mini, yang merasa lebih dekat dengan Allah daripada orang yang lain.
Dalam al Qur’an mengingatkan orang-orang Kristen bahwa mereka adalah manusia seperti orang-orang lainnya, dan tidak lebih seperti orang-orang yang lain. Olaf Schuman berpendapat bahwa agresivitas terhadap sebutan Anak Allah sebagian diawali atau merupakan jawaban terhadap sikap orang-orang Kristen yang sombong dan merasa tinggi hati, yang menganggap diri sendiri sebagai pengikut Anak Allah dan mau menjadi sendiri Anak-Anak Allah. Jadi al Qur’an benar dalam menghukum sikap seperti itu yang juga bertentangan dengan pesan Alkitab (Al Qur’an dengan Alkitab sependapat).
Maka apabila sebutan ini dipahami sebagaimana Perjanjian Baru, tidak perlu ada kekhawatiran bahwa dibalik itu ada usaha manusia untuk menantang kesatuan Allah. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan bahwa sebutan tersebut betul-betul diyakini sungguh-sungguh karena Kristus dalam keberadan Nya sebagai manusia pun tidak menuntut untuk dipuja dalam rupa Allah. Yang dituntut oleh Kristus adalah ketaatan sebagai hamba, agar para murid Nya menjadi pengikut Nya yang sebenarnya.[14]
C.     Isa almasih Sebagai Anak Tuhan Dalam Pandangan Gereja
Gereja sendiri memandang Isa almasih sebagai Anak Allah pun berbeda pandangan dengan Kristen, dan apalagi dengan Islam. Gereja menggunakan sebutan Anak Allah dengan mengkaitkannya dengan paham Yahudi tentang Mesias sebagai penyelamat duniawi, paham yang mana ditolak oleh Yesus sendiri meskipun Ia tidak menolak disebut sebagai Mesias. Bagi gereja, contoh kuasa dan kemuliaan Allah adalah raja-raja, bahkan seringkali juga para panglima perang, seringkali juga gereja memihak pada pemenang dan berdiam diri di kala terjadi ketidakadilan. Contoh kuasa kemuliaan Allah : Raja, panglima perang, dan lain-lain, yang mana lebih bersifat tidak melayani namun memerintah bersama penguasa duniawi. Di situ sikap Yesus diputarbalikkan dan berita injil  Nya dikhianati.[15]
Gereja memahami Kristus sebagai Anak Tuhan yang memerintah dan merupakan raja yang harus diberi bakti. Pemahaman Kristus tidak lagi dipahami sebagai pelayanan, melainkan sebagai pemerintahan juga dengan memakai jubah raja duniawi, dan menguasai politik. Mereka tidak lagi meniru Kristus sebagaimana yang diperintahkan Paulus, namun mereka bertingkah laku seperti raja-raja mini, yang merasa lebih dekat dengan Allah daripada orang yang lain.[16]




PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa mengenai sebutan “Isa Almasih sebagai Anak Allah” terdapat persamaan paham antara al Quran dengan Alkitab. Yaitu, bahwa sesungguhnya makna “Anak Allah” itu adalah Isa almasih sebagai Hamba Allah. Dalam al Qur’an dan Alkitab sendiri pun dikatakan bahwa Yesus sendiri menolak jikalau Ia disebut-sebut sebagai Anak Allah. Namun, Yesus tidak menolak jika Ia dipandang sebagai seorang Mesias. Karena, dalam Alkitab sendiri dikatakan bahwa Mesias yang dimaksud disini bukan Mesias yang dipahami seperti dipahami oleh orang-orang Yahudi –Orang yang memenangkan peperangan, dan mendirikan kerajaan baru sehingga ia dapat menjadi penguasa– melainkan Mesias yang dipahami sebagai Hamba Allah, yang mana ketika Ia menjadi manusia, Ia benar-benar sama dengan manusia lainnya, bahkan Ia menjadi pelayan bagi manusia yang lain. Mesias adalah seperti seorang gembala yang membimbing dan menjaga kawanan dombanya.

DAFTAR PUSTAKA
Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia), 1993
Indeks Tematik al Qur’an, Nabi Isa adalah Hamba Allah dan bukan Tuhan, diakses pada 19 November 2013, dari http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/2022/nabi-isa-as.-adalah-hamba-allah-dan-bukan-tuhan
Wikipedia, Isa almasih, diakses pada 19 November 2013, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus
Wikipedia, Pandangan Islam Tentang Isa, diaksespada 19 November 2013, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pandangan_Islam_tentang_Yesus


[1] Wikipedia, Pandangan Islam Tentang Isa, diaksespada 19 November 2013, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pandangan_Islam_tentang_Yesus
[2] Wikipedia, Isa almasih, diakses pada 19 November 2013, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus
[3] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia), 1993, h. 193
[4] Indeks Tematik al Qur’an, Nabi Isa adalah Hamba Allah dan bukan Tuhan, diakses pada 19 November, dari http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/2022/nabi-isa-as.-adalah-hamba-allah-dan-bukan-tuhan
[5] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 193
[6] Indeks Tematik al Qur’an, Nabi Isa adalah Hamba Allah dan bukan Tuhan, diakses pada 19 November, dari http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/2022/nabi-isa-as.-adalah-hamba-allah-dan-bukan-tuhan
[7] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 193
[8] Indeks Tematik al Qur’an, Nabi Isa adalah Hamba Allah dan bukan Tuhan, diakses pada 19 November, dari http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/2022/nabi-isa-as.-adalah-hamba-allah-dan-bukan-tuhan
[9] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 201
[10] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 205
[11] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 197
[12] Katolisitas org., Di ayat-ayat apakah Yesus disebut Allah, diakses pada 20 Novenber 2013, dari http://katolisitas.org/9733/di-ayat-ayat-manakah-yesus-disebut-sebagai-allah-god
[13] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 205
[14] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 193-207
[15] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 203
[16] Olaf Schumann, Pemikran Keagamaan Dalam Tantangan, h. 206

ORIENTALISME DAN SEJARAH KEMUNCULAN ISLAM



   A.    Sejarah kemunculan islam
Dalam buku Faisal Ismail terdapat dua orientalis yang menganalisis tentang sejarah kemunculan agama islam. Dua orientalis tersebut adalan William Montgomerry Watt dalam bukunya Muhammad at Mecca, dan Patricia Crone dalam bukunya yang berjudul Meccan Trade and the rise of islam.
1.      William Montgomerry Watt
Beliau adalah salah satu orientalis senior terkemuka di barat. Beliau mencoba melakukan studi yang mendalam terhadap kemunculan islam itu dengan menggunakan analisis dengan sudut pandang pendekatan sosioekonomik. Menurut Watt faktor yang mempengaruhi munculnya agama islam ialah perdagangan Mekah. Teori Watt ini dianggap oleh beberapa ilmuwan dan sejarawan sebagai teori yang baku, dan ini dijadikan aksioma oleh beberapa sejarawan.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Watt menyatakan bahwa Mekkah merupakan kota dagang yang bertaraf internasional. Hal ini diuntungkan oleh posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan yang menghubungkan jalur perhubungan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syria dan dari Abysina ke Irak. Selain itu, posisi Mekah yang terletak di tanah Haram semakin menambah pamor dan prestise dirinya untuk dikunjungi oleh para peziarah dan para pedagang. Watt menyatakan bahwa tumbuhnya Mekkah sebagai pusat perdagangan yang besar dan bergengsi disebabkan karena lokasi kota itu berada di tanah haram dimana orang-orang datang ke Mekkah tanpa rasa takut untuk diganggu dan di aniaya. Mekkah, dengan Ka’bah nya, menjadi pusat ziarah (haji) dan disana para pengunjung juga melakukan kontak-kontak dagang sehingga Mekkah terkenal sebagai salah satu pusat pasar raya yang termasyhur pada masa pra islam. Karena posisi strategis kota Mekkah sebagai pusat perdagangan yang bertaraf internsional, maka komoditas-komoditas yang diperdagangkan oleh orang-orang Mekkah, menurut Montgomerry Watt, adalah barang-barang dagangan yang mewah seperti emas, perak, sutera, porselin, rempah-rempah, parfum, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain. Pada mulanya, orang-orang Quraisy Mekkah, kata Watt selanjutnya, adalah orang-orang kelas menengah dan bekerja sebagai pengecer barang-barang dagangan. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya orang-orang Mekah memperoleh sukses besar dan mereka pun menjadi para pengusaha.
Watt mengatakan bahwa Mekkah terletak di persimpangan jalan yang menghubungkan jalur perhubungan dari Yaman ke Syria dan dari Abyssinia (Ethiopia) ke Irak. Hal ini menjadikan Mekkah dan penduduknya mempunyai relasi dagang secara reguler dan permanen dengan negara-negara tetangganya dan negara-negara asing lainnya.
Menurut Montgomerry Watt, kehidupan masyarakat Arab sebelum datangya islam, termasuk orang-orang Arab Mekkah, sangat menghargai nilai-nilai solidaritas kesukuan dan solidaritas sosial. Hal ini diperkuat pula oleh nilai-nilai humanisme kesukuan yang kuat. Ciri yang menonjol dari kehidupan mereka adalah muruwah , yaitu keberanian dalam peperangan, kesabaran dalam menghadapi ketidakberuntungan, persisitensi dalam melakukan balas dendam, perlindungan pada orang-orang yang lemah dan penantangan terhadap orang-orang yang kuat. Watt mengatakan bahwa muruwah sangat cocok dalam tatanan ekonomi nomadik yang sudah lama mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Arab itu. Lebih jauh Watt mengatakan ketika orang-orang Qurauisy Mekkah memperoleh keberuntungan dan sukses besar dalam dunia bisnis dan perdagangan, maka solidaritas kesukuan dan solidaritas sosial yang berfondasikan muruwah tadi lambat laun terkikis dan tercerabut dari akar-akar tradisi dan tatanan kehidupan mereka. Hal ini mengakibatkan hilangnya rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Mekkah. Dari kehidupan yang demikian, seorang menjadi tersisih dari kehidupan kecuali ia mempunyai kelompok untuk bergabung dan berlindung. Kini masyarakat telah sarat dengan kepentingan yang bermuatan dengan material dan finansial. Pergeseran ini memicu terpisahnya antara yang kaya dengan yang miskin. Kekayaan itu membuat masyarakat Mekkah merasa bisa hidup sendiri dan dan seolah-olah mereka tidak perlu lagi bergantung pada Tuhan. Mereka kehilangan sensitivitas untuk menyadari akan sifat Tuhanyang memberi rizki pada manusia.orang-orang Mekkah telah mengalami lunturnya nilai-nilai humanisme kesukuan dan kehidupan mereka digerogoti oleh krisis-krisis moral dan sosial ketika mereka meninggalkan tatanan ekonomi nomadik kemudian memasuki dan menjalani tatanan ekonomi kapitalis.
Terhadap krisis-krisis itulah, Muhammad melakukan respon untuk melakukan reformasi terhadap tatanan moral dan tatanan sosial berdasarkan pesan-pesan agama yang dibawanya. Maka dari itu, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berisi tentang pentinganya sifat kedermawanan, kemurahan hati, dan kesetiakawanan sosial. Ajaran ini akan membawa mereka pada kesadaran akan sifat Tuhan, dan kepada Nya lahsebenarnya hidup manusia bergantung.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perdagangan Mekkah menyebabkan terjadinya perubahan radikla dan fundamental dalam kehidupan masyarakat Mekkah dari tatanan ekonominomadik ke tatanan ekonomi kapitalis. Dan hal ini menyebabkan terjadinya krisis moral dan krisis sosial dalam kehidupan masyarakat Mekkah, dan terhadap inilahMuhammad memberikan respon dengan menyauarakan pesan-pesan moral dan prinsip sosial sebagaimana ajaran Tuhan. Inilah maksud dari teori Watt bahwa, perdagangan Mekkah adalah merupakan faktor yang sangat signifikan bagi kemunculan islam.[1]
2.      Patricia Crone
Telah disebutkan di atas bahwa Watt mendapat sanggahan dari Patricia Crone. Sanggahan yang dilontarkan Patricia Crone persisinya pada tahun 1987 atau lebih tepatnya 34 tahun kemudian.
Sanggahan Crone ada dalam bukunya yang berjudul Meccan Trade and the Rise of Islam. Selain menggunakan bahan rujukan yang sama dengan Watt, Crone juga mengacu pada puisi yang ditulis pada masa pra islam, berbagai tafsir Qur’an, kumpulan hadis, buku sejarah, dan sumber tradisional lainnya.
Mengenai perdagangan, Crone mengatakan bahwa Mekah bukan merupakan pusat perdagangan internasional. Kalaupun ada, itu hanya bersifat lokal. Crone mengatakan bahwa ada pusat perdagangan di Arabia yang berkembang di kawasan daerah gersang, khuususnya Aden. Akan tetapi, Aden dan kota-kota pantai di Arabia selatan berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan karena terletak di kawasan pantai. Mekkah merupakan kota yang terletak di pedalaman. Menurut Crone, lazimnya kota-kota yang terletak di daerah pantai yang dapat memainkan peranan sebagai lalu lintas niaga dan pusat-pusat perdagangan itu tidak mungkin dilakukan oleh kota Mekkah yang terletak jauh di pedalaman. Crone berkesimpulan bahwa Mekkah bukan pusat perdaganagan internasional, tapi hanya bersifat lokal dan sama sekali tidak mempunyai arti penting.
Mengenai tanah haram dan perdaganagn, Corne mengatakan bahwa keliru anggapan yang menyatakan bahwa Mekkah tumbuh menjadi pusat perdagangan yang besar dan prestisius karena terkait dengan ka’bah. Apalagi orang-orang Mekkah percaya bahwa perdagangan selama musim haji adalah terlarang. Pendapat yang menyatakan islam munculkarena perdagangan adalah mitos belaka.
Corne, juga menyatakan bahwa barang yang diperdagangkan oleh orang Mekkah bukan barang mewah, tetapi barang yang biasa seperti, kulit, tas kulit, pakaian, keledai, onta, dan barang kebutuhan sehari-hari. Crone menyatakan bahwa perdagangan di Mekkah lebih condong digambarkan berdasarkan stereotipe-stereotipe tertentu.
Crone mengajukan hipotesisi yang jauh berbeda. Menurut Crone, mitra dagang orang Mekkah adalah Syria dan Mesir.  Crone menyimpulkan bahwa Mekkah bukan merupaka kota transit dagang. Dan ia tidak memeiliki relasi dagang dengan Ethiopia.
Crone menyatakan ketidak setujuannya terhadap teori Watt. Hal ini karena didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut:
1.      Tidaklah mungkin bahwa dalam waktu yang begitu singkat kekayaan komersial akan menimbulkan banyak kerusakan dalam kehidupan Mekkah. Pergeseran yang dialami masyarakat Mekkah (seperti teori Watt) memakan waktu lebih dari satu abad, yang mana dapat meraih sukses dan pada gilirannya bisa menggerogoti tatanan kesukuan dari masyarakat.
2.      Bukti-bukti tentang adanya kerusakan di Mekkah tidak memadai. Menurut Crone, kerusakan moral yang dialami masyarakat Mekah seperti diagnosa Watt ini keliru. Seperti contohnya, proteksi yang dinikmati Muhammad. Ketika Muhammad menjadi yatim piatu, Muhammad diasuh oleh kakeknya. Menurut Crone, ini mmembuktikan bahwa kesukuan dan solidaritas sosial di Mekkah masih tetap kuat dan utuh.
3.      Tesisi Watt gagal menjelaskan bahwa sebenarnya adalah di Madinah, bukan di Mekkah. Menurut Crone, adalah berlebihan jika sebuah kota yang terletak di pedalaman yang tendus memiliki berbagai problem dan dari berbagaiproblem itulah seorang pendakwah seperti Muhammad memberikan respon dengan membangun sebuah agama dunia.
Setelah mengkritisi teori Watt, Crone mengemukakan teorinya sendiri. Menurut Crone, tidaklah diragukan bahwa ada rasa persamaan dan kesatuan yang kuat dalam kehidupan masyarakat di Arabia yang didasarkan pada ikatan etnis dan kultural, bukan pada ikatan ekonomis. Keberhasilan Muhammad jelas ada kaitannya dengan fakta bahwa dia menyerukan pembentukan negara dan penaklukan. Tanpa penaklukan, di Arabia dan di Fertile Crescent, unifikasi Arabia tidak akan tercapai. Dan tidak ada bukti bahwa kepentingan komersial memberikan pengaruh pada kalangan elite politik yang memerintah dalam pengambilan keputusan untuk melancarkan penaklukan-penaklukan itu.
Akan tetapi  menurut Crone, penaklukan itu adalah sebagai alternatif dari perdagangan. Hipotesisi Crone, Muhammad ingin mencapai tujuan dan misi politik untuk mempromosikan nasionalisme Arab. Ketauhidan memberikan janji yang bagus, yaitu kekuatan dan kekuasaan. Ini membangkitakan militansi dan kebanggaan etnis bagi mereka. Seruan Muhammad inilah yang mendorong masyarakat untuk mendukungnya. Dan misi politik inilah, yang merupakan daya dorong dan daya pacu bagi tersebarnya islam secara luas.
Menurut Crone, negara yang didirikan Muhammad di Madinah di bangun oleh seorang Nabi. Negara itu didasarkan pada pilar otoritas keagamaan, bukan bukan didasarkan pada material. Arabia diapit oleh dua negara besar yaitu Persia dan Byzantium, dan inilah yang mendorong Muhammad untuk mempromosikan persatuan dan kesatuan Arab atau nasinalisme Arab, dengan cara melakukan penaklukan-penaklukan.[2]
   B.     Mencermati Pandangan Crone dan Watt
Dalam mencermati pandangan dari Watt dan Crone, dalam buku Faisal Ismail terdapat anilisis mengenai pendapat keduanya itu. Perbedaan pendapat antara Montgomerry Watt dengan Patricia Crone timbul karena perbedaan sumber sejarah. Watt mendekatinya dengan perubahan sosioekonomik, sedangkan Crone mendekatinya dengan sudut pandang politik. Namun keduanya sama-sama menganalisis secara empiris (hstoris dan sosiologis).
Keduanya terlihat jelas bahwa meneliti kemunculan islam  itu sebagai realitas kemasyarakatan yang hanya berada di bawah tanpa melihat adanya faktor kekuatan transendental atau kehedak dari Tuhan di atas.
Para sejarawan muslim menyatakan bahwa Nabi Muhammad itu diutus oleh Alllah dengan tugas pojoknya yaitu untuk mengajarkan dan menegakkan nilai moral dan akhlak luhur dan mulia. Dengan kata lain, menurut ilmuwan muslimin, faktor nubuwah adalah jauh lebih penting daripada faktor perdagangan dan faktor politik, yang mana pandangan ini dapat kita sebut sebagai pandangan yang bermuatan keyakinan teologis, dalam arti bahwa kemunculan Islam itu sangat terkait dengan adanya faktor kehendak Tuhan dari atas. Allah mengutus Muhammad agar manusia sejalan sesuai dengan cita-cita kemauan Tuhan.
Menurut Akram Khan (Sejarawan muslim)  islam tersebar luas karena ada daya tarik tersendiri. Hal ini tercermin pada argumennya, yaitu:
1.      Pada dasarnya peran islam tidak bersifat politis. Fokus utama islam adalah memberikan bimbingan pada manusia untuk sukses di akhirat. Islam adalah kesinambungan dari pesan-pesan para nabi terdahulu.
2.      Islam telah mendatangkan perubahan yang cepat dan mendasar dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Arab (pada aspek kepercayaan, perilaku, dan cara hidup).
3.      Alasan utama tersebarnya islam secara cepat adalah karena pesan-pesan tauhid yang diajarkannya. Ajaran tauhid ini telah membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan, penghisapan, dan eksploitasi yang dilakukan manusia atas manusia yang lainnya. Hal ini disebutkan oleh Fazlur Rahan yang menekankan prinsip One God-one humanity.
4.      Nabi Muhammad tidak mempersoalkan masyarakat Arab dengan non Arab. Inilah makna dan hakikat universalisme islam dalam pengertian yang sesungguhnya.[3]
Kesimpulan
Ada dua pendapat mengenai kemunculan islam di dunia. Montgomerry Watt menyatakan bahwa munculnya islam itu sebagai akibat dari kondisi perdagangan dan perubahan perilaku masyarakat Arab atas majunya aspek perdagangan di Arab. Sedangkan menurut Patricia Crone menyatakan bahwa Islam muncul karena Nabi Muhammad ingin mengembangkan nasionalisme Arab hingga ke penjuru dunia. Untuk mencapai hal itu, Nabi Muhammad memperlihatkan kesatuan dan persatuan masyarakat Arab. Di mana wilayah Arab terjepit antara negara-negara besar. Yang mana Arab dapat mengupayakan penaklukan terhadap negara besar tersebut dengan sisitem nasionbalisme Arab yang sangat kuat.


[1] Faisal Ismail, Perdagangan Mekkah dan Kemunculan Islam (mendiskusikan tesisi Montgomerry Watt dan Patricia Crone), pdf.
[2] Faisal Ismail, Perdagangan Mekkah dan Kemunculan Islam (mendiskusikan tesisi Montgomerry Watt dan Patricia Crone), pdf.
[3] Faisal Ismail, Perdagangan Mekkah dan Kemunculan Islam (mendiskusikan tesisi Montgomerry Watt dan Patricia Crone), pdf.